Saturday, September 13, 2025

LKPD Perancangan dan pemasangan FO DropCore OUTDOOR

  -Merapihkan Kabel yang kusut agar memudahkan pemasangan:


-Pemasangan kabel dan odp ke tiang dengan tidak lupa memakai k3lh



LKPD

Perancangan dan Pemasangan FTTH

Mata Pelajaran: Teknologi Kabel dan Jaringan Nirkabel

Topik: Instalasi dan Konfigurasi Jaringan PPPoE FTTH

Alokasi Waktu: 6 × 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah menyelesaikan LKPD ini, peserta didik diharapkan mampu:
1. Menjelaskan konsep dasar FTTH (Fiber to The Home) dan PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet).
2. Memahami peran ONT/ONU dan Router dalam jaringan PPPoE FTTH.
3. Melakukan konfigurasi interface PPPoE Client pada router.
4. Mengkonfigurasi NAT (Network Address Translation) agar perangkat lokal dapat terhubung ke internet.
5. Melakukan pengujian konektivitas internet dari perangkat klien.
6. Menganalisis parameter PPPoE yang diberikan oleh ISP.

B. Teori Singkat
1. FTTH (Fiber to The Home):
FTTH adalah arsitektur jaringan yang menggunakan serat optik dari kantor pusat ISP langsung ke rumah/kantor pelanggan. Teknologi ini lebih cepat dan stabil dibandingkan kabel tembaga. Perangkat di sisi pelanggan disebut ONT (Optical Network Terminal) atau ONU (Optical Network Unit).

2. PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet):
PPPoE adalah protokol jaringan yang membungkus paket data PPP dalam frame Ethernet. PPPoE memungkinkan ISP melakukan autentikasi (username & password) serta akuntansi (pencatatan penggunaan data).

3. Alur Jaringan PPPoE FTTH (Sisi Pelanggan):
Serat optik ISP → ONT/ONU.
ONT/ONU mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik (Ethernet).
Kabel LAN dari ONT/ONU → Router (port WAN).
Router dikonfigurasi PPPoE Client (username & password ISP).
Router terhubung ke internet.
Perangkat klien (PC/HP) terhubung ke router via LAN/WiFi.
Router memberikan IP lokal (DHCP) dan melakukan NAT.

C. Alat dan Bahan
1. Virtual Machine (VM) atau Router fisik (Mikrotik).
2. VM sebagai komputer klien (Windows/Linux).
3. Software Virtualisasi (VirtualBox, VMware, Hyper-V).
4. Koneksi jaringan virtual:
WAN virtual (ONT simulasi).
LAN virtual.
Klien terhubung ke LAN virtual.
5. Aplikasi konfigurasi Mikrotik: Winbox/SSH/CLI.
6. Web Browser untuk pengujian.
7. Lembar kerja dan alat tulis.

D. Keselamatan Kerja
1. Pastikan listrik stabil.
2. Ikuti instruksi dengan cermat.
3. Berhati-hati dalam konfigurasi router.
4. Laporkan kendala pada instruktur.
5. Pastikan adaptor jaringan virtual diatur benar agar tidak konflik IP.

E. Langkah Kerja
Bagian 1: Persiapan Topologi Jaringan Virtual

1. Siapkan Router Mikrotik (2 adaptor jaringan):
ether1 → WAN-Network.
ether2 → LAN-Network.
2. Siapkan komputer klien:
Hubungkan ke LAN-Network.
Atur adaptor sebagai DHCP Client.

Bagian 2: Konfigurasi Mikrotik Router
1. Login ke Mikrotik dengan Winbox.
2. Identifikasi interface (rename ether1-WAN, ether2-LAN).
3. Konfigurasi PPPoE Client (user & password dari ISP).
4. Verifikasi koneksi PPPoE (cek status running, ping google.com).
5. Konfigurasi IP LAN & DHCP Server.
6. Konfigurasi NAT (srcnat → masquerade pada pppoe-out1).

Bagian 3: Pengujian Konektivitas Klien
1. Verifikasi IP di komputer klien (ipconfig /all atau ip a).
2. Uji ping ke 8.8.8.8 dan google.com.
3. Coba akses internet melalui browser.


F. Hasil Pengamatan / Analisis

1. Perbedaan FTTH dengan ADSL/kabel tembaga
FTTH menggunakan serat optik sehingga kecepatan jauh lebih tinggi, stabil, dan tahan interferensi.
ADSL/kabel tembaga lebih lambat, mudah terpengaruh gangguan, serta jarak transmisi lebih terbatas.

2. Mengapa NAT diperlukan? Apa akibatnya jika tidak ada NAT?
NAT diperlukan agar banyak perangkat di jaringan lokal bisa mengakses internet menggunakan satu IP publik.
Jika NAT tidak ada, perangkat lokal tidak bisa berkomunikasi dengan internet karena tidak dikenali oleh jaringan luar.

3. Fungsi PPPoE Client di Mikrotik
Sebagai penghubung router dengan ISP melalui autentikasi (username & password).
Mengatur agar router mendapat IP publik dan bisa digunakan untuk akses internet

4. Perbedaan hasil ping google.com di Mikrotik dan di klien
Di Mikrotik: ping langsung dari router ke internet menggunakan IP publik.
Di klien: ping melalui router (melewati NAT dan DHCP).
Perbedaannya ada pada jalur akses, namun hasil keduanya menunjukkan koneksi berhasil.

5. Fungsi Use Peer DNS pada PPPoE Client
Agar router otomatis menggunakan DNS server dari ISP.
Jika tidak dicentang, DNS harus diatur manual.

6. Jika klien tidak mendapat IP otomatis, bagian mana yang bermasalah?
Kemungkinan pada konfigurasi DHCP Server di router.
Bisa juga adaptor klien tidak terhubung ke LAN dengan benar.

7. Mengapa ISP masih banyak menggunakan PPPoE dibanding DHCP?
PPPoE mendukung autentikasi pengguna (lebih aman).
Memudahkan ISP melakukan pencatatan dan pembatasan layanan.
DHCP lebih sederhana, tapi kurang fleksibel dalam kontrol pengguna.

G. Kesimpulan
Peserta didik memahami bahwa FTTH menggunakan serat optik yang lebih cepat dan stabil dibanding kabel tembaga. Protokol PPPoE berfungsi untuk autentikasi dan koneksi internet, sedangkan NAT serta DHCP memungkinkan banyak perangkat di jaringan lokal mengakses internet melalui satu IP publik. Router Mikrotik dikonfigurasi sebagai PPPoE Client untuk menghubungkan jaringan lokal dengan internet, sehingga klien dapat terhubung dengan lancar dan aman.

No comments:

Post a Comment