Saturday, September 13, 2025

LKPD Perancangan dan pemasangan jaringan PPPoE FTTH dengan ONT/ONU

Elemen Teknologi Jaringan Kabel dan Nirkabel

Fase F

Mata Pelajaran: Teknologi Kabel dan Jaringan Nirkabel

Topik: Instalasi dan Konfigurasi Jaringan PPPoE FTTH

Alokasi Waktu: 6 x 45 menit (disesuaikan)


A. TUJUAN PEMBELAJARAN:

Setelah menyelesaikan LKPD ini, peserta didik diharapkan mampu:

1. Menjelaskan konsep dasar FTTH (Fiber to The Home) dan PPPoE (Point-to-Point

Protocol over Ethernet).

2. Memahami peran ONT/ONU dan Router dalam jaringan PPPoE FTTH.

3. Melakukan konfigurasi interface PPPoE Client pada router.

4. Mengkonfigurasi NAT (Network Address Translation) agar perangkat lokal dapat

terhubung ke internet.

5. Melakukan pengujian konektivitas internet dari perangkat klien.

6. Menganalisis parameter PPPoE yang diberikan oleh ISP.


B. TEORI SINGKAT:

1. FTTH (Fiber to The Home):

FTTH adalah arsitektur jaringan yang menggunakan serat optik dari kantor pusat penyedia

layanan internet (ISP) langsung ke rumah atau kantor pelanggan. Teknologi ini menawarkan

kecepatan transfer data yang jauh lebih tinggi dan stabil dibandingkan kabel tembaga. Dalam

implementasinya, perangkat di sisi pelanggan disebut ONT (Optical Network Terminal) atau

ONU (Optical Network Unit).

2. PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet):

PPPoE adalah protokol jaringan yang digunakan untuk membungkus paket data PPP dalam

frame Ethernet. PPPoE memungkinkan ISP untuk melakukan otentikasi (verifikasi username dan

password) dan akuntansi (pencatatan penggunaan data) pada setiap sesi koneksi internet. Ini

adalah metode yang sangat umum digunakan oleh ISP FTTH untuk memberikan layanan internet.


3. Alur Jaringan PPPoE FTTH (Sisi Pelanggan):

● Serat optik dari ISP terhubung ke ONT/ONU.

● ONT/ONU mengkonversi sinyal optik menjadi sinyal elektrik (Ethernet).

● Kabel LAN dari ONT/ONU terhubung ke Router (biasanya port WAN).

● Di dalam Router, Anda akan mengkonfigurasi PPPoE Client dengan username dan

password yang diberikan oleh ISP.

● Router akan terhubung ke internet.

● Perangkat di rumah (PC, HP) terhubung ke Router (via kabel LAN atau WiFi) dan

mendapatkan IP lokal dari Router (DHCP).

● Router melakukan NAT untuk meneruskan koneksi dari perangkat lokal ke internet.


C. ALAT DAN BAHAN:

1. Virtual Machine (VM) atau Router fisik yang akan disimulasikan sebagai Router

Mikrotik.

2. Virtual Machine (VM) yang akan menjadi komputer klien (Windows atau Linux).

3. Software Virtualisasi: Oracle VirtualBox, VMware Workstation Player/Pro, atau

Hyper-V.

4. Koneksi jaringan virtual untuk simulasi:

Satu adaptor jaringan di Mikrotik Router yang terhubung ke jaringan WAN virtual (simulasi dari ONT). 

Satu adaptor jaringan di Mikrotik Router yang terhubung ke jaringan LAN virtual.

Satu adaptor jaringan di komputer klien yang terhubung ke jaringan LAN virtual. yang sama dengan Mikrotik.

5. Aplikasi untuk konfigurasi Mikrotik: Winbox (untuk Windows) atau SSH/CLI (untuk

Linux/macOS).

6. Web Browser (Google Chrome, Mozilla Firefox, dll.) di komputer klien untuk pengujian.

7. Lembar kerja dan alat tulis.


D. KESELAMATAN KERJA:

1. Pastikan sumber daya listrik stabil.

2. Ikuti instruksi dengan cermat.

3. Berhati-hatilah saat mengkonfigurasi router.

4. Laporkan kepada guru/instruktur jika ada kendala.

5. Pastikan semua adaptor jaringan virtual telah diatur dengan benar agar tidak terjadi konflik IP.


E. LANGKAH KERJA:

BAGIAN 1: PERSIAPAN TOPOLOGI JARINGAN VIRTUAL

1. Siapkan Router Mikrotik:

Pastikan Mikrotik Router memiliki 2 adaptor jaringan.

adaptor 1: Hubungkan ke jaringan WAN Virtual (misal: Internal Network dengan nama WAN-Network). Ini akan menjadi port ether1.

Adaptor 2: Hubungkan ke jaringan LAN Virtual (misal: Internal Network

dengan nama LAN-Network). Ini akan menjadi port ether2.

2. Siapkan Komputer Klien:

 Hubungkan satu adaptor jaringan di komputer klien ke jaringan LAN Virtual yang sama dengan Mikrotik (LAN-Network). Atur konfigurasi IP pada adaptor ini menjadi DHCP Client (Obtain an IP address automatically).


BAGIAN 2: KONFIGURASI MIKROTIK ROUTER

1. Login ke Mikrotik Router:

o Buka Winbox dari komputer host atau klien (jika berada di subnet yang sama).

o Login dengan username default admin (tanpa password) atau sesuai konfigurasi awal Anda.

2. Identifikasi Interface:

o Pada menu Winbox, buka Interfaces.

o Beri nama setiap interface agar mudah dikenali:

▪ ether1 -> ether1-WAN

▪ ether2 -> ether2-LAN

3. Konfigurasi PPPoE Client:

o Pada menu Winbox, buka PPP > tab Interface > klik tombol + > pilih PPPo E Client.

o Di jendela New Interface:

▪ Name: pppoe-out1 (default)

▪ Interfaces: Pilih ether1-WAN.

o Pindah ke tab Dial Out:

▪ User: Masukkan username PPPoE yang diberikan oleh ISP (misal: userftth@isp.net).

▪ Password: Masukkan password PPPoE

▪ Centang Add Default Route dan Use Peer DNS.

o Klik Apply, lalu OK.

4. Verifikasi Koneksi PPPoE:

o Kembali ke menu PPP > tab Interface.

o Lihat status pppoe-out1. Jika berhasil terhubung, status akan R (running).

o Buka menu IP > Addresses. Anda akan melihat IP Address publik telah

diberikan ke pppoe-out1 secara otomatis.

o Uji konektivitas ke internet dari Mikrotik:

▪ Buka menu New Terminal.

▪ Ketik ping google.com. Jika berhasil, akan ada balasan.

5. Konfigurasi IP Address LAN dan DHCP Server:

o Buka menu IP > Addresses.

o Klik tombol +.

o Di jendela New Address:

▪ Address: Masukkan IP lokal untuk jaringan LAN Anda (misal:

192.168.x.123 (x = no_urut_absen)/24).

▪ Interface: Pilih ether2-LAN.

o Klik Apply, lalu OK.

o Buka menu IP > DHCP Server.

o Klik tombol DHCP Setup.

o DHCP Server Interface: Pilih ether2-LAN. Klik Next dan ikuti panduan hingga

selesai (biarkan default).

6. Konfigurasi NAT (Network Address Translation):

o Buka menu IP > Firewall > tab NAT.

o Klik tombol +.

o Di jendela New NAT Rule:

▪ Tab General:

▪ Chain: Pilih srcnat.

▪ Out. Interface: Pilih pppoe-out1.

▪ Tab Action:

▪ Action: Pilih masquerade.

o Klik Apply, lalu OK.

BAGIAN 3: PENGUJIAN KONEKTIVITAS DARI KLIEN

1. Verifikasi IP di Komputer Klien:

o Di komputer klien Windows/Linux, buka Command Prompt atau Terminal.

o Ketik ipconfig /all (Windows) atau ip a (Linux).

o Pastikan IP Address yang didapat berada dalam rentang IP yang Anda set di

Mikrotik

o Pastikan Default Gateway adalah 192.168.x.123 (x = no_urut_absen).

2. Uji Konektivitas Internet:

o Dari komputer klien, buka Command Prompt atau Terminal.

o Ketik ping 8.8.8.8 (untuk menguji koneksi ke Google DNS).

o Ketik ping google.com (untuk menguji resolusi DNS dan koneksi internet).

o Jika berhasil, Anda dapat membuka web browser dan mengakses situs web apapun.


F. HASIL PENGAMATAN / ANALISIS:

1. Jelaskan perbedaan mendasar antara jaringan FTTH dan jaringan ADSL atau kabel tembaga!

 FTTH pakai serat optik (cepat, stabil, simetris), sedangkan ADSL/tembaga pakai kabel telepon (lebih lambat, rentan gangguan, asimetris).

2. Mengapa NAT diperlukan dalam konfigurasi ini? Apa yang terjadi jika NAT tIdak dikonfigurasi?

 NAT menerjemahkan IP private ke IP publik; tanpa NAT, klien tidak bisa akses internet.

3. Jelaskan fungsi dari PPPoE Client di Mikrotik!

 PPPoE Client di Mikrotik dipakai untuk login ke ISP dengan user & password agar router mendapat IP

4. Apa yang Anda amati dari hasil ping google.com di terminal Mikrotik dan di komputer

klien? Apa perbedaannya dan mengapa?

  Ping dari Mikrotik lebih cepat karena langsung ke internet, sedangkan dari klien lewat router dulu.

5. Apa yang dimaksud dengan Use Peer DNS dalam konfigurasi PPPoE Client?

Use Peer DNS membuat Mikrotik otomatis pakai DNS dari ISP; jika tidak, harus atur manual.

6. Jika klien tidak mendapatkan IP Address secara otomatis, di bagian mana dari

konfigurasi yang kemungkinan besar bermasalah?

Klien tidak dapat IP biasanya karena DHCP Server bermasalah (belum aktif, pool habis, atau interface belum diberi IP).

7. Mengapa PPPoE masih banyak digunakan oleh ISP untuk pelanggan rumahan, padahal

ada metode lain seperti DHCP?

PPPoE masih dipakai ISP karena ada autentikasi, mudah untuk billing, dan kontrol pelanggan lebih baik.


G. KESIMPULAN:

Buatlah kesimpulan mengenai pengetahuan dan keterampilan yang Anda peroleh setelah

menyelesaikan LKPD ini. Jelaskan bagaimana protokol PPPoE dan teknologi FTTH bekerja

sama untuk memberikan koneksi internet yang cepat dan aman, serta bagaimana router seperti

Mikrotik dikonfigurasi untuk menghubungkan jaringan lokal pelanggan ke internet.

     PPPoE mengatur login pelanggan dengan username dan password agar aman, sedangkan FTTH menyediakan jalur serat optik yang cepat dan stabil. Router seperti Mikrotik dikonfigurasi sebagai PPPoE Client untuk terhubung ke ISP, memakai NAT agar klien bisa akses internet, dan DHCP Server untuk memberi IP otomatis ke perangkat lokal.


Pengerjaan

Cek status WAN PPoE:

Konfigurasi WLAN






Konfigurasi WAN (PPPoE)

cek status kabel optik


KONFIGURASI MIKROTIK

Buat ip address




























Tambahkan dhcp client sesuai internet berasal

Buat PPP Secret seperti pada gambar di bawah ini

Limit kecepatan pada PPP Profil limits
























Buat PPP Profil

Tampilan pada PPP Secret
Buat PPPoE service seperti gambar di bawah

Pembuatan firewall NAT











Buat dhcp server untuk memberi IP pada ont dan client



Dokumentasi Kegiatan : 







LKPD Perancangan dan pemasangan FO DropCore OUTDOOR

  -Merapihkan Kabel yang kusut agar memudahkan pemasangan:


-Pemasangan kabel dan odp ke tiang dengan tidak lupa memakai k3lh



LKPD

Perancangan dan Pemasangan FTTH

Mata Pelajaran: Teknologi Kabel dan Jaringan Nirkabel

Topik: Instalasi dan Konfigurasi Jaringan PPPoE FTTH

Alokasi Waktu: 6 × 45 menit

A. Tujuan Pembelajaran
Setelah menyelesaikan LKPD ini, peserta didik diharapkan mampu:
1. Menjelaskan konsep dasar FTTH (Fiber to The Home) dan PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet).
2. Memahami peran ONT/ONU dan Router dalam jaringan PPPoE FTTH.
3. Melakukan konfigurasi interface PPPoE Client pada router.
4. Mengkonfigurasi NAT (Network Address Translation) agar perangkat lokal dapat terhubung ke internet.
5. Melakukan pengujian konektivitas internet dari perangkat klien.
6. Menganalisis parameter PPPoE yang diberikan oleh ISP.

B. Teori Singkat
1. FTTH (Fiber to The Home):
FTTH adalah arsitektur jaringan yang menggunakan serat optik dari kantor pusat ISP langsung ke rumah/kantor pelanggan. Teknologi ini lebih cepat dan stabil dibandingkan kabel tembaga. Perangkat di sisi pelanggan disebut ONT (Optical Network Terminal) atau ONU (Optical Network Unit).

2. PPPoE (Point-to-Point Protocol over Ethernet):
PPPoE adalah protokol jaringan yang membungkus paket data PPP dalam frame Ethernet. PPPoE memungkinkan ISP melakukan autentikasi (username & password) serta akuntansi (pencatatan penggunaan data).

3. Alur Jaringan PPPoE FTTH (Sisi Pelanggan):
Serat optik ISP → ONT/ONU.
ONT/ONU mengubah sinyal optik menjadi sinyal elektrik (Ethernet).
Kabel LAN dari ONT/ONU → Router (port WAN).
Router dikonfigurasi PPPoE Client (username & password ISP).
Router terhubung ke internet.
Perangkat klien (PC/HP) terhubung ke router via LAN/WiFi.
Router memberikan IP lokal (DHCP) dan melakukan NAT.

C. Alat dan Bahan
1. Virtual Machine (VM) atau Router fisik (Mikrotik).
2. VM sebagai komputer klien (Windows/Linux).
3. Software Virtualisasi (VirtualBox, VMware, Hyper-V).
4. Koneksi jaringan virtual:
WAN virtual (ONT simulasi).
LAN virtual.
Klien terhubung ke LAN virtual.
5. Aplikasi konfigurasi Mikrotik: Winbox/SSH/CLI.
6. Web Browser untuk pengujian.
7. Lembar kerja dan alat tulis.

D. Keselamatan Kerja
1. Pastikan listrik stabil.
2. Ikuti instruksi dengan cermat.
3. Berhati-hati dalam konfigurasi router.
4. Laporkan kendala pada instruktur.
5. Pastikan adaptor jaringan virtual diatur benar agar tidak konflik IP.

E. Langkah Kerja
Bagian 1: Persiapan Topologi Jaringan Virtual

1. Siapkan Router Mikrotik (2 adaptor jaringan):
ether1 → WAN-Network.
ether2 → LAN-Network.
2. Siapkan komputer klien:
Hubungkan ke LAN-Network.
Atur adaptor sebagai DHCP Client.

Bagian 2: Konfigurasi Mikrotik Router
1. Login ke Mikrotik dengan Winbox.
2. Identifikasi interface (rename ether1-WAN, ether2-LAN).
3. Konfigurasi PPPoE Client (user & password dari ISP).
4. Verifikasi koneksi PPPoE (cek status running, ping google.com).
5. Konfigurasi IP LAN & DHCP Server.
6. Konfigurasi NAT (srcnat → masquerade pada pppoe-out1).

Bagian 3: Pengujian Konektivitas Klien
1. Verifikasi IP di komputer klien (ipconfig /all atau ip a).
2. Uji ping ke 8.8.8.8 dan google.com.
3. Coba akses internet melalui browser.


F. Hasil Pengamatan / Analisis

1. Perbedaan FTTH dengan ADSL/kabel tembaga
FTTH menggunakan serat optik sehingga kecepatan jauh lebih tinggi, stabil, dan tahan interferensi.
ADSL/kabel tembaga lebih lambat, mudah terpengaruh gangguan, serta jarak transmisi lebih terbatas.

2. Mengapa NAT diperlukan? Apa akibatnya jika tidak ada NAT?
NAT diperlukan agar banyak perangkat di jaringan lokal bisa mengakses internet menggunakan satu IP publik.
Jika NAT tidak ada, perangkat lokal tidak bisa berkomunikasi dengan internet karena tidak dikenali oleh jaringan luar.

3. Fungsi PPPoE Client di Mikrotik
Sebagai penghubung router dengan ISP melalui autentikasi (username & password).
Mengatur agar router mendapat IP publik dan bisa digunakan untuk akses internet

4. Perbedaan hasil ping google.com di Mikrotik dan di klien
Di Mikrotik: ping langsung dari router ke internet menggunakan IP publik.
Di klien: ping melalui router (melewati NAT dan DHCP).
Perbedaannya ada pada jalur akses, namun hasil keduanya menunjukkan koneksi berhasil.

5. Fungsi Use Peer DNS pada PPPoE Client
Agar router otomatis menggunakan DNS server dari ISP.
Jika tidak dicentang, DNS harus diatur manual.

6. Jika klien tidak mendapat IP otomatis, bagian mana yang bermasalah?
Kemungkinan pada konfigurasi DHCP Server di router.
Bisa juga adaptor klien tidak terhubung ke LAN dengan benar.

7. Mengapa ISP masih banyak menggunakan PPPoE dibanding DHCP?
PPPoE mendukung autentikasi pengguna (lebih aman).
Memudahkan ISP melakukan pencatatan dan pembatasan layanan.
DHCP lebih sederhana, tapi kurang fleksibel dalam kontrol pengguna.

G. Kesimpulan
Peserta didik memahami bahwa FTTH menggunakan serat optik yang lebih cepat dan stabil dibanding kabel tembaga. Protokol PPPoE berfungsi untuk autentikasi dan koneksi internet, sedangkan NAT serta DHCP memungkinkan banyak perangkat di jaringan lokal mengakses internet melalui satu IP publik. Router Mikrotik dikonfigurasi sebagai PPPoE Client untuk menghubungkan jaringan lokal dengan internet, sehingga klien dapat terhubung dengan lancar dan aman.

LKPD Presentasi "PATCH PANNEL & Management LAN"

Kelompok Patch pannel dan management LAN 

 video presentasi : 





Sunday, April 13, 2025

LKPD PENGGUNAAN VLAN PADA JARINGAN MENGGUNAKAN CISCO

 TOPOLOGI : 




 KONFIGURASI ROUTER ISP:


      

     
 
KONFIGURASI ROUTER GEDUNG A

 







    

   







Wednesday, January 8, 2025

DYNAMIC ROUTING PADA ROUTER MIKROTIK

 -Pengertian Routing dynamic

Routing dinamis merupakan salah satu cara untuk mendistribusikan informasi routing ke beberapa perangkat secara otomatis. Hal ini untuk memudahkan perubahan dan ekspansi saat memiliki jaringan yang sudah terlalu besar. Ada banyak routing dinamis yang bisa diterapkan di mikrotik seperti BGP, OSPF, RIP, dll.

Karena sifatnya dinamis, biasanya kita perlu membuat batasan agar tidak semua informasi routing disebarkan. Pembuatan rule ini menggunakan fitur Routing Filter. Routing filter berguna untuk menentukan informasi routing yang akan didistribusikan pada setiap protocolnya.


-Kelebihan Dinamik Routing

Jika dibandingkan kelemahan dan kelebihan static routing dengan routing dynamic, maka lebih baik kita memilih routing dynamic dalam penerapan di jaringan yang cukup besar. Routing dynamic memiliki beberapa keunggulan, diantaranya: 

1. Hanya mengenalkan alamat yang terhubung langsung dengan routernya (jaringan yang berada di bawah kendali router tersebut). 

2. Tidak perlu mengetahui semua alamat network yang ada. 

3. Jika terdapat penambahan suatu network baru, maka semua router tidak perlu mengkonfigurasi. Hanya router-router yang berkaitan yang akan mengkonfigurasi ulang


-Kekurangan Dinamik Routing

Sebenarnya dalam melakukan routing dynamic juga ada beberapa kerugian yang akan di alami, kerugian routing dynamic adalah sebagai berikut: 

1. Kecepatan pengenalan dan kelengkapan IP table memakan waktu lama karena router akan melakukan broadcast ke semua router sampai ada IP table yang cocok. Setelah konfigurasi selesai, router harus menunggu beberapa saat agar setiap router mendapat semua alamat IP yang tersedia.

2. Beban kerja router menjadi lebih berat karena selalu memperbarui IP table pada setiap waktu tertentu. 


-Macam Macam Dinamik Routing

Ada beberapa Macam dari dinamik routing,mungkin bbrpa contoh nya ada 3, yaitu :

1. RIP (Routing Information Protocol) 

RIP (Routing Information Protocol) merupakan protokol yang memberikan routing table berdasarkan router yang terhubung langsung. Lalu, router selanjutnya akan memberikan informasi ke router berikutnya yang terhubung langsung dengan router tersebut. 

RIP terbagi menjadi dua bagian, yaitu: 

• RIPv1 (RIP versi 1) 

1. Hanya mendukung routing class-full 

2. Tidak ada info subnet yang di masukkan dalam data perbaikan routing 3. Tidak mendukung VLSM (Variabel Length Subnet Mask) 

4. Adanya fitur perbaikan routing broadcast 

• RIPv2 (RIP versi 2) 

1. Mendukung adanya routing class-full dan class-less 

2. Info subnet dimasukkan dalam data perbaikan routing 

3. Mendukung adanya VLSM (Variabel Length Subnet Mask) 

4. Perbaikan routing multicast 

Sebenarnya secara umum, RIPv2 tidak berbeda jauh dengan RIPv1. Perbedaan yang ada terlihat pada informasi yang diberikan antar router. Pada RIPv2, informasi yang dipertukarkan terdapat autentifikasi. 

Kelebihan RIP 

1. Menggunakan metode “Triggered Update” 

2. Memiliki timer untuk mengetahui kapan router harus kembali memberikan informasi 

3. Mengatur routing menggunakan RIP tidak rumit dan memberikan hasil yang cukup dapat diterima, terlebih jika jarang terjadi kegagalan link pada jaringan.


2.BGP (Border Gateway Protocol) 

Sebagai routing protocol, BGP memiliki kemampuan untuk melakukan pengumpulan rute, pertukaran rute dan menentukan rute terbaik menuju ke sebuah lokasi dalam sebuah jaringan. Yang membedakan BGP dengan routing protocol lain adalah BGP termasuk ke dalam kategori routing protocol jenis Exterior Gateway Protocol (EGP). BGP merupakan “distance vector exterior gateway protocol” yang bekerja secara cerdas untuk merawat path-path ke jaringan lainnya. 

Update – update akan dikirim melalui koneksi TCP. Protokol ini biasa digunakan antara ISP dengan ISP dan atau antara client dengan client lainnya. Dalam implementasinya, protokol ini digunakan untuk membuat rute dari trafik internet antar autonomous system. 

Kelebihan BGP 

1. Sangat sederhana dalam proses instalasi 


3.OSPF (Open Short Path First) 

OSPF adalah sebuah routing protocol standar terbuka yang telah diaplikasikan oleh sejumlah vendor jaringan. Jika jaringan yang dikelola adalah jaringan besar, maka OSPF adalah pilihan satu-satunya. OSPF ini adalah sesuatu yang disebut route redistribution, yaitu sebuah layanan penerjemah antar routing protocol. OSPF hanya mendukung routing IP saja, update routing akan dilakukan secara floaded saat terjadi perubahan topologi jaringan. 

Kelebihan OSPF 

1. Tidak menghasilkan routing loop 

2. Mendukung penggunaan beberapa metrik sekaligus 

3. Bisa menghasilkan banyak jalur ke tujuan untuk membagi jaringan yang besar menjadi beberapa area 

4. Waktu yang di perlukan untuk konvergen lebih cepat


-INTERNAL GATEWAY PROTOCOL

Singkatnya, protokol gateway internal dirancang untuk merutekan lalu lintas antara entitas dalam sistem otonom yang sama. Jadi, desainnya tidak mengatasi tantangan khusus perutean lalu lintas jaringan eksternal antara entitas yang termasuk dalam sistem otonom yang berbeda.

Protokol IGP yang paling populer adalah Open Shortest Path First (OSPF), Intermediate System to Intermediate System (IS-IS), Routing Information Protocol (RIP), dan Enhanced Interior Gateway Routing Protocol (EIGRP)


-EKSTERNAL GATEWAY PROTOCOL

Tidak seperti protokol gateway internal, protokol gateway eksternal mengarahkan lalu lintas di antara sistem otonom. Dengan demikian, kita dapat mengatakan bahwa protokol ini berfokus pada tantangan menemukan sistem otonom tertentu tempat entitas jaringan berada, bukan entitas itu sendiri

Protokol EGP yang paling menonjol disebut Border Gateway Protocol (BGP), dan, sebagaimana telah kami komentari, infrastruktur Internet saat ini (berdasarkan sistem otonom) sangat bergantung padanya.

  Jadi, kategori IGP menunjukkan protokol yang merutekan lalu lintas jaringan antara entitas dalam sistem otonom yang sama. Di sisi lain, kategori EGP terdiri dari protokol yang bertanggung jawab untuk merutekan lalu lintas antara sistem otonom yang berbeda.


-DISTANCE

Distance pada routing dinamik mikrotik mengacu pada fungsinya dengan distance ini kita bisa menentukan jalur routing mana yang menjadi prioritas dan yang menjadi sebuah jalur backup. Secara default nilai distance pada tabel routing Mikrotik dari 0 - 255. Semakin kecil nilai distance maka rule tersebut akan semakin diprioritaskan.

Nah, oleh karena itu kita harus memberikan nilai distance yang kecil untuk jalur utama dan apabila jalur utama putus maka secara otomatis akan memakai jalur lain dengan nilai distance yang lebih besar.

Tabel DISTANCE 





SIMBOL/FLAG pada mikrotik

-DAo (Dinamic, Active, Ospf).

-DAC means Dynamic, Active, Connected

-DAr means Dynamic, Active, rip


-HOP 

hop sendiri dapat diartikan sebagai loncatan namun atau jika diartikan adalah jumlah melewati router yang paling sedikit ke TUJUAN.


-AUTONOMOUS SYSTEM

Pengertian Autonomous system 

Autonomous system (AS) adalah Sebuah koleksi end-system routers yang di bawah kendali sebuah manajemen atau athority tunggal. Sistem ini biasanya memakai sebuah Interior Gateway Protocol (IGP).AS diperlukan bila suatu jaringan terhubung ke lebih dari satu AS yang memiliki kebijakan routing yang berbeda. Contoh yang paling sering dijumpai adalah: jaringan yang terhubung kepada dua upstream atau lebih ataupun eXchange Point, peering dengan jaringan lokal pada eXchange Point.

Mengapa ada AS?

Karena dengan adanya Autonomous System Pembagian region region pada jaringan yang besar dapat menjadikan suatu jaringan lebih terstruktur dan di atur oleh 1 kebijakan routing yang di definisikan secara jelas.

Keuntungan

 Dapat menghubungkan jaringan besar dari satu AS ke AS yang lain yang memiliki kebijakan routing yang berbeda.

Wednesday, November 20, 2024

LKPD 12 MEMILIH TEKNOLOGI JARINGAN NIRKABEL INDOOR DAN OUTDOOR

 Pada suatu hari, di suatu kota, terdapat sebuah perusahan PT.Teknologi Maju, 


Pada perusahaan tersebut terdapat seorang Manajer TI bernama Rudi yang bertanggung jawab atas pengelolaan jaringan lokal (LAN) perusahaan.


PT. Teknologi Maju adalah sebuah perusahaan yang memiliki dua kantor di dua kota yang berbeda, yaitu Kota Bandung dan Kota Cimahi. Kantor pusat berada di Kota Bandung dan kantor cabang di Kota Cimahi, dengan jarak sekitar 50KM.


Kedua kantor ini harus terhubung dengan jaringan LAN NirKabel yang stabil dan aman. Kantor pusat memiliki 50 karyawan dan berada di gedung bertingkat 3 yang terdiri dari departemen HRD dengan jumlah 5 unit PC dan 5 Unit Laptop, departemen Keuangan 10 unit laptop, departemen pemasaran 10 unit laptop, 5 unit Tablet, dan 5 unit PC. sedangkan kantor cabang memiliki 30 karyawan dan berada di gedung bertingkat 2, yang terdiri dari departemen produksi 10 unit laptop, dan departemen umum 5 unit laptop, 5 unit tablet, 5 unit PC dan 5 unit HP.


Manajer TI, Pak Rudi, perlu memutuskan teknologi jaringan nirkabel yang paling sesuai untuk digunakan di masing-masing kantor dan bagaimana kedua kantor ini bisa terhubung dengan baik, dengan mempertimbangkan : 


Teknologi jaringan nirkabel indoor apa yang paling cocok untuk digunakan di kantor pusat dan kantor cabang?, 


Teknologi jaringan nirkabel outdoor apa yang bisa digunakan untuk menghubungkan kedua kantor tersebut?


Pak Rudi juga ingin memastikan bahwa biaya yang dikeluarkan efisien dan jaringan memiliki performa yang baik.


Apabila anda menjadi Rudi, apa yang akan anda lakukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi perusahaan tersebut ?


jawaban:


 


Jika saya menjadi Pak Rudi, berikut adalah langkah-langkah yang akan saya ambil untuk menyelesaikan masalah jaringan nirkabel di PT. Teknologi Maju:


 


1. Teknologi Jaringan Nirkabel Indoor


Untuk kantor pusat di Bandung dan kantor cabang di Cimahi, saya akan memilih teknologi Wi-Fi 6 (802.11ax). Teknologi ini menawarkan kecepatan yang lebih tinggi, kapasitas yang lebih besar, dan efisiensi yang lebih baik dibandingkan dengan generasi sebelumnya1. Beberapa keunggulan Wi-Fi 6 adalah:


 


Kecepatan Tinggi: Mampu menangani banyak perangkat secara bersamaan tanpa mengurangi kualitas koneksi.


OFDMA dan MU-MIMO: Memungkinkan banyak perangkat untuk terhubung dan berkomunikasi secara efisien.


Jangkauan Lebih Luas: Dengan menggunakan teknologi mesh, sinyal Wi-Fi dapat mencakup seluruh area gedung tanpa adanya area mati1.


2. Teknologi Jaringan Nirkabel Outdoor


Untuk menghubungkan kantor pusat di Bandung dengan kantor cabang di Cimahi yang berjarak sekitar 50 km, saya akan menggunakan teknologi Wireless Point-to-Point (PtP) atau Wireless Point-to-Multipoint (PtMP). Teknologi ini cocok untuk jarak jauh dan dapat memberikan koneksi yang stabil dan cepat2. Beberapa opsi yang bisa dipertimbangkan adalah:


 


Wireless PtP: Menggunakan antena directional untuk menghubungkan dua titik secara langsung. Cocok untuk jarak jauh dengan sedikit interferensi.


Wireless PtMP: Menggunakan satu titik pusat untuk menghubungkan beberapa titik lainnya. Cocok jika ada lebih dari dua lokasi yang perlu dihubungkan2.


3. Efisiensi Biaya dan Performa


Untuk memastikan biaya yang dikeluarkan efisien dan jaringan memiliki performa yang baik, saya akan:


 


Melakukan Survei Lokasi: Menilai kondisi fisik dan lingkungan di kedua kantor untuk menentukan penempatan perangkat yang optimal.


Memilih Perangkat Berkualitas: Menggunakan perangkat dari vendor terpercaya yang menawarkan dukungan teknis dan garansi.


Mengoptimalkan Konfigurasi Jaringan: Mengatur kanal frekuensi dan kekuatan sinyal untuk meminimalkan interferensi dan memastikan koneksi yang stabil.


Monitoring dan Pemeliharaan: Menggunakan alat monitoring jaringan untuk memantau performa dan melakukan pemeliharaan rutin3.


Dengan langkah-langkah ini, saya yakin jaringan nirkabel di PT. Teknologi Maju akan stabil, aman, dan efisien dalam mendukung operasional perusahaan.

LKPD 11 MENGANALISIS STANDAR JARINGAN NIRKABEL

 Pada perusahaan tersebut terdapat seorang Manajer IT bernama Rudi yang bertanggung jawab atas pengelolaan jaringan lokal (LAN) perusahaan.


Perusahaan PT.Teknologi maju sedang berkembang pesat, Manajer IT harus menghadapi tantangan dalam memilih standar jaringan Nirkabel untuk jaringan LAN perusahaan tersebut. Apakah menggunakan standar jaringan Bluetooth ? Wifi ? atau Zigbe.


Beberapa departemen penting seperti pemasasaran berada pada lantai 1 dengan jumlah laptop 10 unit dan 2 unit tablet, produksi pada lantai 2 dengan jumlah laptop 5 unit dan 2 unit printer, dan keuangan pada lantai 3 dengan jumlah laptop 1 unit.


Adapun beberapa masalah yang dihadapi oleh manager IT, diantaranya yaitu


Jangkauan dan Kapasitas: Beberapa ruang kantor berada di lantai yang berbeda, dan jaringan nirkabel yang ada saat ini sering kali tidak mencapai semua area dengan baik. Ada kebutuhan untuk meningkatkan jangkauan dan kapasitas jaringan.


Keamanan: Dalam mengelola informasi sensitif seperti data keuangan dan rencana pemasaran, keamanan menjadi perhatian utama. Standar keamanan yang dipilih harus memastikan perlindungan data yang memadai.


Biaya dan Efisiensi: Sebagai perusahaan kecil, anggaran untuk infrastruktur IT terbatas. Manajer IT harus mempertimbangkan biaya implementasi serta biaya operasional jaringan nirkabel baru.


 


Apabila anda menjadi Rudi, apa yang akan anda lakukan untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi perusahaan tersebut ? 


 


jawaban:


Jika saya menjadi Rudi, saya akan mempertimbangkan beberapa faktor penting untuk memilih standar jaringan nirkabel yang paling sesuai untuk PT. Teknologi Maju. Berikut adalah langkah-langkah yang akan saya ambil:


 


1. Evaluasi Kebutuhan Jaringan


Jangkauan dan Kapasitas: Mengingat kantor berada di lantai yang berbeda, saya akan memilih standar jaringan yang memiliki jangkauan luas dan kapasitas tinggiWi-Fi (terutama standar terbaru seperti Wi-Fi 6 atau 802.11ax) akan menjadi pilihan utama karena mampu memberikan jangkauan yang luas dan kecepatan tinggi1.


Keamanan: Wi-Fi memiliki protokol keamanan yang kuat seperti WPA3 yang dapat melindungi data sensitif perusahaan2.


Biaya dan Efisiensi: Wi-Fi juga lebih efisien dalam hal biaya implementasi dan operasional dibandingkan dengan Zigbee atau Bluetooth yang lebih cocok untuk perangkat dengan konsumsi daya rendah dan jangkauan pendek3.


2. Implementasi Infrastruktur Wi-Fi


Access Points (APs): Saya akan memasang beberapa Access Points di setiap lantai untuk memastikan jangkauan sinyal yang optimal. Penempatan APs yang strategis akan membantu mengatasi masalah jangkauan.


Router dan Switch: Menggunakan router dan switch yang mendukung standar Wi-Fi 6 untuk memastikan kecepatan dan kapasitas jaringan yang tinggi.


3. Keamanan Jaringan


Enkripsi WPA3: Mengaktifkan enkripsi WPA3 untuk semua perangkat yang terhubung ke jaringan Wi-Fi.


Firewall dan VPN: Menggunakan firewall dan VPN untuk melindungi data yang dikirim melalui jaringan.


4. Manajemen dan Pemantauan


Software Manajemen Jaringan: Menggunakan software manajemen jaringan untuk memantau kinerja jaringan dan mendeteksi masalah secara real-time.


Update Berkala: Melakukan update firmware dan software secara berkala untuk memastikan keamanan dan kinerja jaringan tetap optimal.


5. Pertimbangan Biaya


Anggaran: Menyusun anggaran yang mencakup biaya perangkat keras (APs, router, switch), biaya instalasi, dan biaya operasional.


Efisiensi Biaya: Memilih perangkat yang menawarkan kinerja terbaik dengan harga yang terjangkau.


Dengan langkah-langkah ini, saya yakin jaringan nirkabel di PT. Teknologi Maju akan lebih handal, aman, dan efisien dalam mendukung operasional perusahaan.